17 Jun 2011

~ Surat Sahabat - Untuk Seorang Sahabat ~


Surat Sahabat
Sahabatku, saat ini aku sangat sedih...tak kusangka dia' yang aku kenal dan begitu baik mampu melupakan aku. Padahal aku yang selalu memberikan semangat untuknya ketika dia terpuruk, hingga aku yang selalu mampu membuatnya tertawa ketika dia tak lagi mampu tersenyum tapi mengapa dia mampu merobek hati hingga sedalam ini. Sahabatku aku sebenarnya hanya ingin Rumah Tangganya bahagia sampai2 aku rela masuk dalam kehidupannya dan dengan setia aku mendengarkan segala keluh kesahnya, sungguh rasanya hatiku ikut hanyut dan merasakan kepedihan hatinya ketika aku tahu persis apa yang dilakukan istrinya yang tiada lain dari bentuk kekecewaan suami yang rela melakukan apapun untuk sang istri bahkan terdengar khabar "percintaan yang dibumbui penghianatan". Aku hanya bersimpati padanya tapi aku begitu kecewa ketika aku tahu ternyata dia tak lebih dari seseorang yang mudah melupakan jasa-jasa orang lain yang telah mengantarkannya pada kebahagiaan bersama istrinya kembali. Sahabat... ternyata inilah balasan atas semuanya itu hingga tak terjalin lagi tali silaturahmi hanya karena sebuah alasan yang tak berdasar.....

Untuk Seorang Sahabat
Pada suratmu itu aku menangkap pesan adanya rasa kekecewaan tapi aku lebih tertarik dengan penghianatan yang terjadi pada temanmu itu, ada pertanyaan kecil dalam hati "Mengapa dia masih bisa menerima istrinya kembali setelah penghianatan itu apakah cinta yang begitu besar mampu mengorbankan segalanya hingga hidup dalam penderitaan" tapi sudahlah sahabat itu urusan mereka, akupun hanya ingin kau tau tentang pandanganku...

Penghianatan itu adalah lambang kandasnya cinta.
Laki-laki ataupun wanita yang melakukannya pastilah dia orang yang keras hati dan tidak berperasaan. Terlebih lagi jika wanita yang melakukannya dan si suami bisa dengan sabar menerima kenyataan bahwa istrinya adalah seorang penghianat demi alasan masih cinta. Sesuatu yang luar biasa yang tidak umum dilakukan oleh laki-laki untuk bisa bertahan dengan seorang isteri yang jelas2 telah mengkhianatinya.Sungguh sulit membayangkan perasaan suaminya itu sampai rela merendahkan dirinya setelah penghianatan itu terjadi. Bukankah pernikahan itu harus berlandaskan cinta, kasih sayang dan kepercayaan, apalah artinya jika hidup berumah tangga tidak ada rasa saling percaya lagi dan selalu dibumbui dengan berbagai trik hanya untuk mengelabui suami.

Untuk Seorang Sahabat
Sebenarnya engkau seorang yang berjiwa besar, rela mengorbankan perasaanmu hanya untuk melihatnya bahagia, meskipun hatimu menolak sebuah hubungan tapi kebersamaan itu hampir saja mengoyakmu hingga kau merasa kecewa. Aku sebenarnya sangat menyayangkan perlakuan temanmu itu yang tak tahu rasa terimakasih, masa hanya untuk sebuah senyum saja tak mampu dia berikan sebagai tanda terimakasih. Itulah sahabat, aku hanya ingin kau tahu.....

Orang yang tak tahu terimakasih itu tidak berakhlaq
Dalam hal ini aku berharap engkau tau, orang yang ta' tau terimakasih itu menandakan dia itu tidak berakhlaq dan beradab apalagi kepada sesama manusia. Di sinilah waktunya kita bertindak yakni melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar  dengan menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah berbuat buruk. Aku juga ingin kau tahu ketika kita mengingatkan seseorang bahwa dia tidak tahu terima kasih, kita lakukan bukan karena kita sakit hati karena harapan-harapan kita yang dikecewakan tapi lebih karena kita tahu, bahwa orang-orang seperti itu "merugikan" bukan saja orang lain tetapi juga dirinya sendiri.

Surat Sahabat
Jika begitu kenyataannya, aku dapat menarik kesimpulan rasa sakit hati itu timbul karena kita berharap bahwa orang lain juga akan melakukan usaha seperti yang kita lakukan. Namun kini akupun tahu harapan itu akanlah sia-sia dan akupun hanya sekedar tahu "Bahwa itulah dia". Dengan niat melakukan amal shalih karena Alloh, aku tidak akan kecewa kalau seseorang yang sudah mendapatkan jasaku kemudian “mengkhianatiku” atau tidak berterima kasih padaku. Aku ingin hanya demi Alloh, maka seseorang tidak memiliki harapan kepada siapa pun selain Alloh Ta’ala dan Alloh Ta’ala tidak pernah mengecewakan kita bukan sahabatku...? Dengan kata lain, banyak berharap kepada Alloh, pasti tidak kecewa.“Aaah…biarlah manusia mengecewakanku, yang penting Alloh melindungiku dengan rahmah-Nya” sehingga hati kita tidak terlalu sakit dan kita bisa lebih sabar menghadapi berbagai ujian Alloh lainnya....

Surat terakhir untuk sahabatku
Aku bangga padamu ternyata engkau begitu pandai, kau begitu cepat melupakan sumber kesedihanmu itu.
memang sakit rasanya bila dikecewakan tapi hidup adalah hidup. Kita harus tetap berjalan kedepan. Jangan menghiraukan kekecewaan yang melanda karena itu hanya akan membuat kita terpuruk saja. Dikecewakan orang… memang hal yang sangat menusuk namun hal itu pada akhirnya akan menjadi bahan pelajaran untuk lebih dewasa menjalani hidup. Aku ingin kaupun tahu bahwa "tidak mudah menyatakan terima kasih kepada sesuatu yang kita sendiri belum bisa berterima kasih pada diri sendiri hingga lupa, harus meletakan harga diri pada nafas, akal, nafsu dan lain2nya itu hingga lupa...merekalah yang setia mengawal jiwa kita hingga kita mampu menghargai diri sendiri" 

Terimakasih untuk surat2mu sahabat hingga pesan dari langitpun mampu menembus ke'alpaan diri


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar